Kamis, 15 Oktober 2009
Integritas Diri
Kita semua pasti memiliki kelemahan. Persoalannya, tidak semua orang mampu menyadarinya. Malahan kelemahan pribadi seperti sulit menerima kekalahan dan gampang tersinggung acapkali ditutupi dengan pola pembelaan diri atau pola konfrontasi baik secara kasat mata maupun tidak.
Lalu, selain memiliki kelemahan, kita semua pasti memiliki kekuatan, keunggulan atau kelebihan dibandingkan dengan orang lain. Kekuatan tersebut merupakan "modal" yang patut dibanggakan dan disumbangkan bagi orang lain dalam kehidupan sehari-hari.
Pada titik pemahaman ini, apakah kita benar-benar sudah memiliki integritas diri. Apakah kita sudah secara hakiki menjadi pribadi yang utuh? Makna integritas diri perlu kita tegaskan lagi. Pribadi yang utuh niscaya mampu mencintai orang lain dengan cinta agape , karena orang lain adalah sesama makhluk Tuhan. Ia pasti tegas pada nilai atau prinsip sebagai insan beriman.
Juga, ia berani mengakui kelemahan dan kelebihan yang dimilikinya. Jika dalam kehidupan sehari-hari, kita bisa mencintai sesama manusia namun tidak tegas menolak ajakan melakukan kesalahan atau penyimpangan, berarti diri kita tidak berfungsi secara utuh.
Demikian pula sebaliknya, kita tegas terhadap nilai, namun kehilangan cinta, semuanya akan sia-sia. Jika kita bisa mengakui keunggulan kita dan orang lain, tetapi tidak berani mengakui kelemahan kita, akan terjadi ketimpangan dan "cacat" pribadi yaitu tidak seimbang. Maka yang terpenting adalah mencoba menyadari apakah diri kita sudah berjalan secara utuh. Kita seyogiyanya mengkondisikan hati untuk melakukan penyadaran diri dalam diri kita.
Sekali lagi, hakikat pribadi yang utuh mempunyai makna yaitu penyadaran (conscientization) akan keberadaan cinta, ketegasan, kelemahan dan kekuatan yang niscaya diungkapkan, dialami dan dijalani dalam kehidupan bersama.Penyadaran akan unsur-unsur dalam diri kita berarti: kita dengan suasana hati yang tenang menyadari cinta sebagai pusat diri kita, sebagai perekat dalam berrelasi dengan orang lain. Cinta memampukan kita untuk tertarik, bersimpati dan berbela rasa pada orang lain. Dengan cinta kita tidak akan tega Melakukan penyimpangan
Perjalanan hidup ini dan apa yg berada di sekiling kita haruslah berkah. Berkah ialah tersebarnya kebaikan ilahiah ( ketuhanan ) dalam apa yg kita lakukan, dalam apa yg berada di sekitar kita. Kalau sudah penuh dengan kebaikan.¡Ä. Seorang yg telah memiliki integritas diri, memiliki visi hidup yg jelas, akan bisa menapaki jalan hidup ini dengan baik
Kesadaran akan ketegasan bermaknakan tegas terhadap nilai yang kita pegang sebagai orang beriman. Ketegasan tersebut mendorong kita untuk setia pada kebenaran yang kita yakini sebagai insan beriman. Ketegasan berarti mengatakan tidak terhadap kezaliman, kekerasan dan ketidakadilan yang diperlakukan pada dirinya dan orang lain yang ada di sekitarnya.
Ada beberapa tips yang harus dijaga dalam membangun integritas diri Untuk membangun integritas dan karakter yang kokoh, diperlukan 7 kebiasaan yang harus dilakukan secara sadar dan konsisten :
1. Selalu menepati janji
2. Taat asas, tidak plin-plan
3. Komitmen dipegang teguh dan bertanggungjawab
4. satu kata, satu perbuatan
5. Jujur dan terbuka
6. Menghargai waktu
7. Menjaga prinsip dan nilai-nilai yang diyakini
Kesadaran akan kelemahan dan kekuatan mendorong kita untuk berani mengakui kelemahan dan kekuatan kita. Kelemahan kita perbaiki dan kekuatan menjadi sumbangan indah bagi sesama yang lain. Dengan penyadaran integritas diri tersebut, kita akan berani mengakui diri sebagai pribadi utuh.
Integritas diri tidak akan terbentuk kalau dirinya tertarik/tarik- menarik ke segala-arah akibat ingin membentuk jati diri/integritas diri dari suatu konsep yang sudah ada. Pelanggaran atas apa yang diperintahkan hati nurani, berarti pelanggaran terhadap integritas diri kita sendiri.
--
Best Regard
Erwin Arianto,SE
Mengukur Integritas: Bukan Lagi Mission Impossible
Salah satu elemen kunci yang dilihat organisasi terhadap kandidatnya adalah integritas. Berbeda dengan kompetensi yang lain, integritas ini memiliki keunikan tersendiri. Yang menjadi tantangan adalah, bagaimana organisasi mengukur integritas yang dimiliki kandidatnya?
Dalam perjalanannya, Daya Dimensi Indonesia (DDI), sering dihadapkan dengan ’requirement’ dari organisasi yang ingin mendapatkan karyawan dengan integritas tinggi. “Integritas adalah kriteria nomor satu yang diminta oleh organisasi dalam proses seleksi,” jelas Novi Laurina, Senior Consultant DDI yang ditemui Human Capital. ”Setiap kali datang ke pimpinan perusahaan dan bertanya karyawan seperti apa yang dibutuhkan perusahaan saat ini, pasti jawaban yang langsung dikeluarkan pimpinan tersebut adalah, karyawan yang jujur dan berintegritas tinggi.”
Mengapa organisasi cenderung sangat sensitif terhadap faktor integritas seseorang? Novi menjelaskan bahwa hampir semua organisasi yang pernah ditemuinya menempatkan integritas sebagai salah satu value. Situasi ini dipicu oleh meningkatnya tuntutan bisnis yang membuka peluang bagi seorang karyawan untuk mengelola jaringan yang lebih luas, bertemu dengan lebih banyak vendor, maupun memanage budget yang lebih signifikan. Persaingan bisnis juga menuntut organisasi untuk memastikan kerahasiaan organisasinya tidak jatuh ke tangan pesaing. Oleh sebab itulah organisasi me’mutlak’ kan integritas sebagai salah satu nilai yang harus dimiliki karyawannya.
”Terutama untuk strategic level, integritas sudah pasti menjadi keharusan,” tambahnya lagi. Melihat integritas kandidat. Sebelum berbicara lebih jauh, Novi menjelaskan apa yang dimaksud dengan integritas. Menurutnya, DDI menerjemahkan integritas menjadi tiga komponen besar yaitu honesty, consistency, dan commitment. ”Ketiga hal tersebut kami pakai sebagai basis dalam melihat integritas seseorang.”
Bagi Novi, integritas merupakan hal yang tidak mudah diukur karena melibatkan variabel yang cukup banyak. Menurutnya ada beberapa cara/tools yang dapat digunakan sebagai alat ukur seperti; referensi, multi- rater survey (360 degree), assessment centre dan wawancara. ”Masing-masing tools tentunya memiliki kegunaan dan tantangan yang berbeda.”
Untuk posisi-posisi strategis, referensi atau assessment center bisa sangat membantu dalam melihat integritas seseorang. Referensi merupakan salah satu cara yang cukup komprehensif untuk mengukur integritas karena saat seleksi melalui proses checking terlebih dahulu. “Untuk high level position candidate, penting dilakukan cross check terhadap track record di tempat bekerja sebelumnya. Track record yang dilihat tentunya sesederhana apakah yang bersangkutan pernah melanggar peraturan apapun dalam perusahaan tersebut,” jelas Novi. Metode ini tepat
untuk melihat integritas kandidat di high/strategic level karena dalam proses cross checking, pertanyaan dapat dilakukan secara mendetail. Namun Novi tidak menyarankan metode ini digunakan pada seleksi massal karena akan melibatkan tenaga dan waktu yang tidak sedikit.
Assessment Center, menurut Novi, memiliki realibilitas yang paling baik. Metode ini memiliki kelebihan-kelebihan yang tidak dimiliki metode lain. Pertama, assessment center menggunakan banyak alat atau multi tools. Kedua, assessment juga menggunakan multi assessor dimana satu kandidat dinilai lebih dari satu assessor.
Selain itu dalam assessment center ada proses integrasi data yang memungkinkan semua data yang telah terkumpul dari setiap assessor didiskusikan dalam upaya memperoleh penilaian akhir terhadap kandidat. Tapi sekali lagi Novi berpendapat bahwa assessment center tidak cocok untuk mengukur integritas dalam seleksi yang sifatnya masal. “Assessment center membutuhkan investasi yang cukup besar, jadi akan sangat tidak efisien jika digunakan dalam proses seleksi tahap awal.”
Metode lain yang biasa dipakai untuk mengukur integritas adalah multi-rater survey (360 degree). Metode ini digunakan untuk mengukur kompetensi-kompetensi termasuk integritas seseorang yang sudah berada di dalam suatu organisasi. Metode ini memungkinkan seseorang dinilai oleh orang-orang di lingkungan kerjanya seperti atasan, bawahan dan rekan kerjanya. Walaupun demikian metode ini tidak bisa digunakan dalam seleksi awal.
Lalu, metode apa yang efektif untuk digunakan dalam proses seleksi awal yang sifatnya masal? Novi memilih metode wawancara terarah berbasis perilaku yang memungkinkan interviewer mendapatkan beberapa contoh perilaku kandidat di masa lalu untuk memrediksi perilakunya di masa mendatang. Sekarang persoalannya, wawancara terarah seperti apa yang dapat memastikan organisasi mendapatkan informasi akurat seputar integritas
kandidat?
Hal pertama yang harus dilakukan adalah dengan mendefinisikan standar perilaku integritas yang menjadi acuan dalam proses wawancara terarah ini. Hal berikutnya adalah standar pertanyaan yang akan diajukan dalam proses wawancara. Pertanyaan tersebut haruslah dibuat senetral mungkin tanpa menimbulkan tendensi tertentu, sehingga kandidat dapat merespon dengan lugas.
Untuk metode wawancara terarah ini, Novi memperkirakan reliabilitasnya mencapai 45% sampai 55%. Angka ini cukup besar mengingat banyaknya variabel yang mesti dinilai. Tapi bagaimanapun juga Novi mengingatkan bahwa berhasil tidaknya interview tergantung dari interviewernya juga. Biasanya semakin tinggi jam terbangnya, semakin valid informasi yang bisa digali oleh interviewer.
Selanjutnya Novi menambahkan bahwa integritas seseorang bisa dijaga dengan sistem organisasi yang mapan. “Bagaimanapun peluang seseorang untuk berbuat curang akan selalu ada, peluang inilah yang harus diminimumkan dengan sistem. Contohnya di industri bank, mereka selalu menerapkan dual control dalam
memberikan persetujuan transaksi.” Sistem prosedur organisasi yang tertata rapi menurutnya dapat membentengi karyawan dari perbuatan melenceng.” (adt)
Mengukur Integritas
1. Seberapa baikkah saya memperlakukan sesama, andaikata saya tidak mendapatkan apa-apa?
2. Apakah saya transparan terhadap sesama?
3. Apakah saya mengganti peran sesuai dengan lawan bicara saya?
4. Apakah saya ketika di bawah sorotan dan ketika sendirian adalah orang yang sama?
5. Apakah saya segera mengakui kesalahan saya tanpa ditekan?
6. Apakah saya mendahulukan sesama daripada agenda pribadi saya?
7. Apakah saya mempunyai standar yang tetap untuk keputusan-keputusan moral, atau apakah keadaan yang menentukan pilihan-pilihan saya?
8. Apakah saya mengambil keputusan-keputusan sulit, seandainya pun itu mengandung pengorbanan pribadi?
9. Ketika ada sesuatu yang ingin saya bicarakan tentang sesama saya, apakah saya bicara langsung kepada yang bersangkutan, atau membicarakan tentang yang bersangkutan?
10. Apakah saya pertanggungjawabkan setidaknya kepada satu orang apa yang saya pikirkan, katakan, dan perbuat?
Integritas, dapatkah diukur dan diramalkan?
Walaupun sulit, dari hasil korespondensi dengan psikolog yang telah menamatkan PhD nya di UQ (University of Queensland), diilhami artikel ibu Eileen Rachman yang pernah dimuat di Kompas, serta pengalaman menilai sikap dan perilaku (termasuk integritas) bawahan di suatu perusahaan, saya akan mencoba merangkai apa, bagaimana serta mungkinkah integritas dapat diukur serta diramalkan.
1. Definisi integritas menurut kamus kompetensi
Integritas kerja adalah bertindak konsisten sesuai dengan kebijakan dan kode etik perusahaan. Memiliki pemahaman dan keinginan untuk menyesuaikan diri dengan kebijakan dan etika tersebut, dan bertindak secara konsisten walaupun sulit untuk melakukannya.
2. Bagaimana menilai integritas bawahan/calon pimpinan?
a. Apakah kode etik telah dilaksanakan?
Setiap profesi mempunyai kode etik profesional yang harus dipatuhi. Etika ini harus tercantum dalam peraturan perusahaan dan dapat diobservasi dalam penilaian perilaku. Sebagai contoh: Pada salah satu perusahaan, tingkat kedalaman perilaku integritas bertingkat, dari 1 sampai 3 , disesuaikan dengan dimensi tingkat risiko yang harus dihadapi karena bertindak konsisten sesuai kode etik dan kebijakan.
Seseorang bisa saja pandai berkomunikasi dan menunjukkan bahwa integritasnya tinggi, namun dapat diuji dan dilakukan probing, aspek apa yang paling dijunjung tinggi dalam kode etiknya. Misalkan dengan menanyakan, apakah pernah mengalami kasus seputar etika, dan seberapa jauh keterlibatannya dalam kasus tersebut? Apabila tak terkait, bagaimana cara menyelesaikan kasus tersebut, jika yang terlibat adalah anak buahnya?
b. Bagaimana mengatasi conflict of interest
Setiap orang perlu menyesuaikan perilakunya dilapangan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Pada situasi ini, seorang individu ada kemungkinan berhadapan dengan conflict of interest, bagaimana cara memecahkan masalahnya, yang dalam pemecahannya akan terkandung kadar integritasnya. Bagaimana dia menggunakan wewenangnya dalam menyelesaikan persoalan, sebaik apakah wewenang tersebut dimanfaatkan? Integritas pimpinan dapat diukur, bagaimana pimpinan memanfaatkan wewenangnya, dan mengambil risiko melakukan putusan dari yang populer maupun yang sama sekali tak populer.
c. Apakah seseorang bersifat sebagai risk taker atau risk avoider?
Apakah seorang akan lari dari tanggung jawab? Atau berani pasang badan untuk mempertanggung jawabkan ?
Untuk level operasional/first level management, kriteria kedisiplinan dan cooperative behaviour (yang bisa diterjemahkan sebagai ketaatan pada peraturan dan kesediaan bekerjasama untuk memenuhi tuntutan organisasi) sudah cukup mewakili perilaku kerja yang diinginkan melalui apa yang dinamakan “integrity” itu.
Untuk level upper middle management memang perlu ada interview yang mendalam, untuk melihat seberapa jauh kecenderungan seseorang untuk berperilaku yang merugikan organisasi dan masyarakat luas, terutama untuk wewenang besar yang mereka miliki. Yang terkadang sulit diukur adalah keberanian mengambil risiko (dalam pengertian positif), yang terkadang dekat sekali artinya dengan mengambil keputusan diluar prosedur yang ada. Sebaliknya, pimpinan yang terlalu prosedural (cenderung cari aman dan berlindung dibalik prosedur) juga tidak akan efektif mendorong kemajuan organisasi.
d. Komitmen terhadap organisasi
Sejauh mana seorang pimpinan akan melakukan perubahan, mengembangkan anak buahnya untuk memajukan perusahaan? Bagaimana komitmennya terhadap organisasi, apakah seseorang berani melakukan hal sulit untuk kemajuan organisasi? Seorang pimpinan yang baik juga akan menjadi mentor bagi bawahannya, serta menyiapkan kaderisasi sebagai penggantinya kelak.
e. Perhatian terhadap sesama
Dalam menilai pendekatan ke manusia, diperlukan suatu data dan fakta, untuk mengetahui gambaran integritas seseorang. Hal ini memerlukan kepekaan dan kemampuan penilai/pewawancara, untuk melihat konteks dan framework seputar fakta yang dibicarakan dalam tanya jawab intensif.
3. Apakah mungkin dilakukan training untuk meningkatkan integrity?
Melakukan observasi perilaku seperti bahasan di atas akan lebih mudah bila orang tersebut belum bergabung dengan perusahaan. Namun bagaimana apabila yang dinilai adalah seseorang yang akan mendapat kesempatan untuk menjadi pimpinan yang lebih tinggi? Pada umumnya penilaian dilakukan dengan metoda tertentu, dan melalui assessment center. Permasalahan yang sering muncul, adalah kekurangan orang sesuai yang dibutuhkan, ataupun kalau ada masih terdapat “gap” yang harus diperbaiki. Persoalan yang muncul adalah, bagaimana cara training yang tepat untuk menutup gap tersebut? Di satu sisi, integritas merupakan kunci kemajuan perusahaan, karena maju mundurnya perusahaan ditentukan oleh SDM nya, yang diharapkan menjunjung integritas tinggi. Disadari, bahwa perusahaan lebih mudah membuat orang pandai dengan meningkatkan skill nya, tetapi yang sulit adalah meningkatkan soft kompetensinya.
Jika training untuk soft kompetensi begitu sulit, perlu dipikirkan membuat sistem manajemen dan budaya organisasi sedemikian rupa, sehingga tidak ada peluang bagi anggotanya untuk berperilaku “menyimpang”. Sistem yang terbuka, record yang lengkap, pertanggung jawaban yang jelas, reward dan sanksi yang tegas untuk perilaku kerja tertentu, akan dapat membantu terbentuknya “integrity in action” tersebut. Tumbuhnya sense of belonging dan komitmen yang tinggi terhadap organisasi juga kondusif dampaknya untuk mengurangi perilaku yang menyimpang. Kalau seseorang sudah merasakan bahwa organisasi tempat dia bekerja adalah bagian penting dari dirinya sendiri, maka dia tidak akan berperilaku merugikan bagi perusahaannya, karena berarti akan merugikan diri sendiri. Jadi situasi kerja demikian yang harus dibentuk, untuk meningkatkan integrity di tempat kerja, dibanding dengan pendidikan khusus tentang hal ini.
Senin, 10 Agustus 2009
MANAJEMEN BATIN
MANAJEMEN BATIN
Eileen Rachman & Sylvina Savitri
EXPERD
One-day Assessment Centre
Ditayangkan di Kompas, 1 Agustus 2009
Mencetak pemimpin handal adalah tantangan di setiap organisasi, bahkan di tingkat negara. Begitu besar harapan dan kompleksnya tuntutan yang diletakkan di bahu seorang pemimpin, sehingga program pengembangan kepemimpinan yang didesain paling canggih pun mustahil digarap secara instan. Ya, mau tidak mau, pemimpin memang harus siap dan terbuka untuk dipoles dan memoles dirinya 'luar –dalam'. Harus siap untuk berkeringat. Seperti halnya para calon perwira yang musti selalu siap menjalani "kawah candradimuka" satu ke yang lainnya, diterjunkan ke berbagai 'medan' dan tantangan, dalam kurun waktu berbulan-bulan, bahkan tahunan.
Dalam suatu latihan kepemimpinan, saya memperhatikan seseorang yang tampak tidak segera mendapatkan manfaatnya. Teman kita ini, cepat memahami aturan main, patuh pada instruksi dan sepintas lalu tidak terlihat menonjol, baik pemberontakannya maupun perubahannya. Namun, dalam dirinya tampak tidak terlihat upaya untuk mempertanyakan, mengolah pertentangan, menggarap dilema kerja tim maupun mencerap doktrin. Sementara teman-temannya 'menikmati' refleksi diri dan secara serius mengolah berbagai proses batin yang terasa, baginya semua ini hanya bagaikan angin lewat saja. Tentu saja ini adalah 'waste' besar, bila sebuah pelatihan yang dijalani tidak dipandang dan diolah dengan sungguh-sungguh. Bagaimana mungkin individu bisa jadi pemimpin handal tanpa upaya untuk betul-betul menggarap aspek-aspek batin dalam dirinya? Bukankah tantangan terbesar pemimpin bukan ujian terhadap pengetahuan atau knowledge-nya, namun justru datang dari kehebatannya dalam mengelola aspek emosi dan psikologi diri dan timnya?
Kembali Pada Diri Sendiri
Kita lihat banyak pemimpin yang cepat naik darah, tidak bisa menahan emosi. Kita juga bisa memahami betapa situasi terjepit ataupun krisis seperti yang kita hadapi ini membutuhkan ketahanan dan ketekunan. Hanya orang orang yang optimis yang mampu menghadapi turbulensi politik, ekonomi dan sosial di masa sekarang ini. Di lain pihak, penyeimbangan antara optimisme dan realitas ini memang bukan hal yang mudah. Tidak selamanya seorang pemimpin berani membuka 'brutal facts' dan realitas buruk kepada anak buahnya karena tidak ingin anak buah merasa pesimis dan turun semangat, bahkan balik badan meninggalkan dirinya yang sedang kepayahan.
Seorang pemimpin memang teruji dan diujinya dari situasi yang menempatkannya pada posisi maju kena mundur kena, terjepit antara manajemen dan bawahan, terdesak antara kesempatan dan keterbatasan. Inilah sebabnya banyak juga kita temui pemimpin yang plin-plan, tidak bisa mengambil keputusan atau menentukan arah yang jelas, bahkan tidak jarang seolah terkesan pengecut. Pertanyaannya, dalam menghadapi situasi sulit ini, pada siapa seorang pemimpin bersandar? Pada siapa pemimpin belajar? Pada siapa ia bertumpu? Tentu saja, ia musti kembali pada dirinya sendiri. Jelas, bila dalam diri seorang pemimpin tidak terjadi pengolahan batin yang intensif, segala pengetahuan, keahlian bahkan karisma yang dimilikinya, pada suatu saat bisa jadi sumber daya yang usang.
Membangun Keberanian Moral
"Drive", energi, keterarahan, disiplin diri, 'willpower' serta kekuatan saraf perlu ditempa, dilatih dan ditingkatkan. Bisa dibayangkan bagaimana kacaunya bila seseorang tiba-tiba diposisikan sebagai pemimpin, dituntut untuk mempraktekkan pengambilan keputusan dan pemberian arah yang jelas, sementara ia tidak memiliki dan tidak mengasah kualitas-kualitas batinnya dengan sungguh-sungguh. Seorang ahli manajemen mengungkapkan: "Courage - not complacency - is our need today. Leadership not salesmanship". Tidak heran pasukan-pasukan khusus yang melahirkan pemimpin-pemimpin bangsa berlatih berjalan kaki sejauh 600 km dan berenang menyeberangi selat Sunda. Hanya dengan ketahanan fisik dan mental seperti ini jiwa berani, tidak kenal lelah dan kekuatan menghadapi segala kemungkinan bisa tumbuh.
Latihan kepemimpinan yang melelahkan, menekan moral, bahkan kadang membosankan, sebenarnya membawa individu kepada "moral courage" untuk menghadapi manusia, anak buahnya. Hanya dengan keberanian moral, seorang pemimpin bisa bergerak dari otoritas formalnya, menuju yang lebih informal seperti membangun collective intelligence, lalu memobilisasi anggota tim untuk memecahkan masalah dan tidak mengandalkan isntruksi 'dari atas' saja. Fleksibilitas dan kesejajaran ini hanya bisa diterapkan oleh pemimpin yang sudah 'lulus' berlatih mental. " Leadership success is a marathon, not a sprint. "
Pentingnya Melihat ke Dalam Diri
Latihan kepemimpinan yang keras, penuh deraan baik fisik dan mental, sebenarnya tidak jauh dari dorongan pada individu untuk melihat ke dalam dirinya sendiri. Bila seorang pemimpin bisa melihat ke dalam dirinya, barulah ia bisa merefleksinya pengetahuan kemanusiaannya ke orang lain. Orang yang tidak memulai dari diri sendiri akan tampil sebagai pemimpin yang tidak peka, 'sensing' sering meleset, terutama karena ia tidak mengenal contoh manusia yang paling dekat , yaitu dirinya sendiri.
Sebagai pemimpin, individu perlu memikirkan strategi bagaimana mengendalikan pikiran pribadi dan emosinya. Salah satu caranya adalah dengan secara sadar mengembangkan "inner dialogue" yang jujur dan terbuka dengan dirinya. Misalnya saja, bertanya pada diri sendiri: "Apakah saya menuntut terlalu banyak? Apakah usaha yang terlalu keras ini akan menjadi bumerang? Apakah nada bicara saya memotivasi atau justru menjatuhkan mental anak buah?". Hanya dengan keterbukaan dan kejujuran pada diri sendiri, seorang pemimpin mampu mengembangkan 'passion' pada kelompok, tanpa kehilangan sisi manusiawinya. Hanya dengan kepekaan yang kuatlah, arahan dan instruksi seorang pemimpin akan lebih "make sense".
Minggu, 12 Juli 2009
Mutiara kata dan pepatah tentang cinta dan perkawinan
Ubi caritas et amor, Deus ibi est. Kata bijak bahasa Latin ini berarti “Di mana ada cinta dan asmara, Allah ada di sana.” Orang sering berpikir positif tentang cinta tetapi sebaliknya cenderung memandang negatif tentang asmara. Asmara sering dijuluki cinta monyet. Asmara dianggap berbahaya karena bisa menjerumuskan orang ke tindakan yang terlanjur salah yang kemudian membawa penyesalan.
Apakah ini benar? Pandangan miring seperti ini mungkin saja mengingkari kebenaran bahwa baik cinta tulus dan asmara menggebu-gebu adalah sama-sama diciptakan Tuhan untuk kelangsungan hidup umat manusia. Jika Anda dilanda asmara, jangan khawatir, Tuhan ada di sana. Jika Anda mencintai seseorang dengan tulus, sudah pasti Tuhan juga ada di sana.
KATA BIJAK :
Cinta menciptakan “kita” tanpa memusnahkan “saya.” (Leo Buscaglia)
Jika Anda berhasil merayu ibu, Anda akan memeluk putrinya. (Pepatah Rusia)
Cinta tidaklah masuk untuk tinggal di hatimu. Cinta bukanlah cinta sampai Anda mengeluarkannya. (Anonim)
Jangan pernah membuang kesempatan untuk menyatakan kepada seseorang bahwa Anda mencintainya. (H.Jackson Brown, Jr)
Omong kosong jika Anda bilang mencintai seseorang tapi Anda tak mau berkorban baginya. Tiada cinta tanpa jalan penderitaan karena melalui jalan penderitaan orang menemukan cinta yang tercerahkan. (S.Belen 2005)
Cinta dan skandal adalah pemanis teh yang terbaik. (Henry Fielding)
Cinta adalah sebuah cerutu yang dapat meledak yang kita dengan rela mengisapnya. (Lynda Barry)
Kita mudah ditipu oleh mereka yang kita cintai. (Moliere)
Demi sedikit cinta, Anda bayar seumur hidupmu. (Pepatah Yahudi-Jerman)
Cinta itu membutakan. Karena itu mengapa para kekasih ingin menyentuhnya. (Pepatah Jerman)
Cinta tak pernah tanpa beberapa robekan. (Pepatah Slowakia)
Cinta adalah buah yang berbuah tanpa mengenal musim. (Mother Teresa)
Cinta itu sempurna sesuai dengan proporsi kebebasannya. (Thomas Merton)
Afeksi tidak dapat diciptakan; ia hanya dapat dibebaskan. (Bertrand Russell)
Jika cinta ditekan, kebencian akan menggantinya. (Havelock Ellis)
Jika kekuasaan cinta mengatasi cinta kekuasaan, dunia akan mengetahui perdamaian. (When the power of love overcomes the love of power, the world will know peace). (Anonim)
Dalam cinta, satu tambah satu sama dengan satu. (Jean Paul Satre)
Mencintai dan menang adalah hal yang terbaik, yang terbaik berikutnya adalah mencintai dan kalah. (William MakepeaceThackeray)
Cinta romantis adalah cinta yang penuh nafsu seksual. Romantisme menggunakan keintiman seksual untuk menciptakan atau melipatgandakan kedekatan dan saling memenuhi. (Peter R Breggin)
Anda tidak boleh memaksa seks untuk melakukan pekerjaan cinta atau cinta untuk melakukan pekerjaan seks. (Mary McCarthy)
Di mana ada perkawinan tanpa cinta, akan ada cinta tanpa perkawinan. (Anonim).
Dalam hidup ini orang sering mengawini orang yang tidak dicintai dan mencintai orang yang tidak bisa dikawini. (S.Belen)
Cinta adalah satu-satunya kekuatan yang mampu mengubah seorang musuh menjadi seorang teman. (Martin Luther King, Jr)
Cinta dan telur itu terbaik ketika masih segar. (Pepatah Rusia)
Cinta adalah sebuah permainan di mana dua orang dapat bermain dan keduanya sama-sama menang. (Eva Gabor)
Cinta adalah latihan bebas untuk memilih. Dua orang saling mencintai hanya jika mereka cukup mampu hidup tanpa yang lain tetapi memilih untuk hidup satu dengan yang lain. (M.Scott Peck)
Perkawinan bukan sekadar hubungan spiritual dan pelukan bergairah; perkawinan juga adalah tiga kali makan sehari dan ingat membuang sampah. (Joyce Brothers)
Apa cara terbaik agar suamimu ingat hari ulang tahunmu? Kawinlah pada hari ulang tahunnya. (Cindy Garner)
Cinta sering membuat seorang paling pintar tampak bodoh, dan sama seringnya memberi kepintaran kepada orang yang tampak paling bodoh. (Pepatah Prancis)
Satu hal yang kita tidak pernah mampu memberi secukupnya adalah cinta. (Henry Miller)
Tiada pengobat cinta daripada lebih banyak mencintai. (Henry David Thoreau)
Seorang tidak jatuh ke “dalam” atau “keluar” dari cinta. Seorang bertumbuh
Ada satu tempat yang dapat Anda sentuh pada wanita yang mendorongnya menjadi ‘tergila-gila’. Hatinya. (Melanie Griffith)
Laki-laki selalu menginginkan menjadi cinta pertama seorang wanita. Wanita suka menjadi romance terakhir seorang laki-laki. (Oscar Wilde)
Perkawinan harus menjadi duet. Ketika seorang bernyanyi yang lain bertepuk tangan. (Joe Murray)
Sebuah perkawinan yang baik sekurang-kurangnya 80% nasib untung menemukan seorang yang tepat pada waktu yang tepat. Sisanya adalah saling percaya. (Nanette Newman)
Pesta perkawinan kita sudah berlalu bertahun-tahun yang lalu. Perayaannya berlanjut sampai hari ini. (Gene Perret)
Pesta hari ulang tahun perkawinan adalah perayaan cinta, saling percaya, kemitraan, toleransi, dan ketabahan. Urutannya bervariasi untuk suatu tahun tertentu. (Paul Sweeney)
Hal terbaik yang dapat terjadi pada pasangan yang kawin 50 tahun atau lebih adalah bahwa keduanya sama-sama bertumbuh menjadi rabun jauh. (Linda Fiterman)
Sebuah pelukan ibarat bumerang – Anda langsung mendapatkan kembali. (Bil Keane)
Ciuman tanpa pelukan ibarat bunga tanpa aroma wangi.
Bunyi sebuah ciuman tidak sekeras meriam; tetapi gemanya berlangsung jauh lebih lama. (OliverWendell Holmes)
Rantai tidak bersama-sama mengikat sebuah perkawinan. Benang-benang, ratusan benang tipislah yang menjalin dua orang bersama-sama melewati tahun demi tahun (Simone Signoret)
Cinta adalah sebuah bunga yang berubah menjadi buah dalam perkawinan – Pepatah Finlandia
Tiada kombinasi yang begitu menyenangkan seperti pria dan istri. (Menander)
Jumlah hutang-piutang antara dua orang yang kawin tak mungkin dapat dihitung. Itu adalah hutang tak terbatas, yang hanya dapat dilunasi di akhirat yang abadi. (Johann Wolfgang von Goethe)
Cinta yang sempurna kadang-kdang tidak datang sampai cucu yang pertama. (Pepatah Welsh)
(Sumber: wisesayings365.wordpress.com; www.vanillamist.com; efl.htmlplanet.com; www.brownielocks.com)
Jumat, 10 Juli 2009
Serat centhini
Oleh : Adrianto Budi Nugroho
